Mukadimah (ciee.. mukadimah..)
Senang rasanya saya bisa mengeluarkan apa yang ada di kepala saya (lagi), setelah sebelumnya (4 tahun yang lalu) saya buat duniaawankawank.blogspot.com yang kini saya lupa passwordnya, jadilah saya buat blog baru ini.
Sesungguhnya saya sedikit malas untuk nge-blog lagi setelah kejadian
lupa password itu, namun hal itu langsung hilang setelah lebaran 2014
kemarin, saya pulang kampung, dan rasanya harus aja saya menuliskan
tentang kampung saya ini, kampung tempat saya bermain. Ada kecintaan
terhadap kampung ini.
Nama kampung saya itu adalah Gombong Onan, entah kenapa kampung itu
dinamai seperti itu. Ada kabar angin yang mengatakan bahwa nama Gombong
itu adalah nama bambu, sedangkan Onan itu adalah nama warga yang pertama
tinggal di situ, Ki Onan. Entahlah, saya tak begitu tahu, dan banyak
orang yang tidak tahu pula akan hal itu.
Gombong Onan terletak tepat dibelakang tugu perbatasan antara Bogor –
Sukabumi, nama jalan yang melintasi kampung kami pun namanya Jalan
Bogor – Sukabumi.
Sebelum bercerita banyak, saya mau ngaku kalau ingatan saya tentang
tanggal atau tahun sangatlah payah, jadi saya tidak pernah tahu pasti
tepatnya kapan. Kalau ada teman yang baca dan ingat, kasih tahu saya ya! :)
Masa kecil
Nama saya Awang Kuswara, kelahiran tahun 1982. Sebenarnya saya tidak
lahir di Gombong Onan, saya tinggal di kampung itu sesaat sebelum saya
masuk SD kelas 1. Sebelumnya orang tua saya sering berpindah dari satu
tempat ke tempat lain, dari satu kontrakan ke kontrakan lain.
Di Gombong Onan, keluarga kami tinggal bersama orang tua dari
Bapakku. Waktu itu belum masuk listrik, kami masih pakai lampu tempel,
kadang juga petromak. Yang paling aku ingat di kegiatan setiap malam
keluarga kami adalah keluarga kami senang sekali main kartu remi. Ketika
bapak dan paman-paman saya bermain, saya belajar sama ibu atau bibi
saya. Yang selalu saya ingat, saya sangat suka menggambar, lebih
tepatnya corat-coret, dan itu ditemani bibi saya dan temaramnya lampu
tempel.
Entah berapa lama dari itu, Bapak saya bisa membangun rumah tepat di sebelah rumah kakek.
Bapak saya pernah membeli lego dan kereta api mainan lengkap dengan
lintasannya, hobi saya membawa mainan itu keluar, bermain bareng dengan
teman-teman seumuran, senaaaang rasanya.
Di awal-awal kemunculan televisi, keluarga saya juga salah satu yang
rada awal punya di Gombong Onan, seingat saya. Jadi, kalau ada film
Satria Baja Hitam dan film anak lainnya, teman-teman sering berkumpul
dan nonton film tersebut ramai-ramai. Hehe, kalau inget itu saya suka
malu sendiri, namaya anak-anak kan kalau nonton ribut, nah, saya gak
suka kalau nonton ribut. Karena saya merasa yang punya televisi, kadang
yang berisik suka saya bentak, atau lebih tengil lagi saya matikan
televisinya.
Ola adalah nama salah satu teman saya, dia berumur lebih tua sedikit
dari saya. Dia salah satu yang suka ikut juga nonton televisi di rumah
saya, kadang kalau saya teriak “berisiiiiik”, saya suka tepat melihat
wajah dia, walaupun saya tahu dia diam dan asik melihat film, yang lain
yang biasanya berisik. Hehe, seriusan, setiap inget itu, pasti saya
ingat pandangan Ola ke saya, saya sih bisa baca maksud dari pandangan
itu “Ih, nyebelin banget sih nih anak!!” mungkin gitu gerutu Ola dalam
hatinya, hehe.. Duuuuh, malu saya, maaf ya teman-teman, anak kecil emang
gitu, hehehe..
Suatu hari, waktu itu hujan sedikit gerimis, dari balik jendela saya
melihat ke pelataran sekitar rumah yang agak luas, sehingga dimanfaatkan
anak-anak kampung seumuran saya bermain bola. Asik sekali mereka
mengejar dan menendang bola. Dua orang dari mereka tidak memakai baju,
hanya singlet putih yang telah menjadi krem. Dalam hati, ah gampang,
saya juga bisa bermain bola, padahal seingat saya, saya belum pernah
bermain bola sebelumnya.
Yang paling kuingat dari anak-anak itu adalah yang sekarang menjadi
sahabatku, Supendi namanya, dulu kita memanggilnya Empen. Dia mungkin
tidak pernah tahu bahwa dialah salah satu orang yang membuat saya
mencintai sepakbola, lebih tepatnya mencandu bermain sepakbola.
Entah kapan mulainya, saya jadi sering bermain sepakbola, di kampung maupun di sekolah.
Di sekolah, saya punya beberapa teman-teman hebat dalam sepakbola.
Dedi, yang paling besar badannya. Asep Ridwan, si kecil lincah. Asep
Budi Firmansah atau Asep BF, dia jago juga. Nanang atau Kerud, bek yang
susah dilewati, laksana monster landak karena rambutnya yang spikey,
dulu kita menyebutnya jocong. Dan teman-teman lainnya. Kami tergabung
dalam tim PSCD (Persatuan Sepakbola Cigombong Dua), kalo gak salah, Dedi
yang punya ide buat nama itu, gak terkenal, kami aja yang tahu nama
itu.
Kampung kami dikelilingi pohon karet, jadi kalau mau ke jalan raya
atau ke sekolah, kita harus melawati kebun karet, adem ditambah semilir
angin yang disapukan daun-daun. Namun kadang sedikit mengerikan, karena
di kebun karet sekitaran kampung kami sering dijadikan pembuangan bagi
petrus, itu lho orang-orang yang dianggap kriminal pada pemerintahan
Presiden Soeharto itu. Saya tak pernah melihat langsung korban-korban
itu, hanya desas-desus saja. Tapi sekitar dua kali saya mendengarkan
perbincangan orang-orang dewasa bahwa pagi itu ada mayat, dan sudah
dibereskan (maksudnya sudah tidak ada bekasnya lagi). Entah siapa yang
membereskan.
Di kebun karet itu pulalah kami sering main bola, semakin besar,
lapangannya pun bukan di pelataran rumah lagi. Di kampung, saya punya
tandem hebat dalam bermain bola. Posisi saya penyerang, dan teman yang
paling saya ingat sebagai teman menyerang saya adalah Heri dan Jajang.
Pada permainan bola terakhir, saya dan Heri begitu kompak, kami banyak
menciptakan gol. Ya, itu permainan bola kami yang terakhir, karena
beberapa hari kemudian Heri meninggal tertabrak mobil ketika hendak
menyebrang. Selamat jalan, sahabat, kamu pasti tenang disisi Allah,
Her..
Cerita lain dari kebun karet adalah bekas luka di pipi saya pun ada
karena main bola, terlalu semangat mengejar bola, tak sadar pohon karet
di depan mata, debb!!! Pipi saya mencium pohon karet, luka baret..
Kesukaan saya bermain bola juga menjadikan saya sebagai pemain
terbaik pada saat turnamen bola memperingati Hari Kemerdekaan. Skill,
kelincahan dan daya jelajah saya menjadi pertimbangan saya jadi pemain
terbaik, begitu kata panitia turnamen tersebut. Sampai sekarang saya
masih simpan piagam penghargaan jadi pemain tebaik se-RW tersebut karena
itu menjadi salah satu kebanggan saya yang kelak akan saya tunjukan ke
anak saya, lengkap dengan tanda tangan dari ketua panitia, paman saya.
(Pleaseeeee, jangan berfikir itu nepotisme ya! Hahay..)
Dunia anak itu memang seharusnya bermain dan bermain, karena dengan
begitu ia akan belajar dengan cara yang tidak membosankan, dengan cara
yang disukainya.
Main perang-perangan adalah hobi saya, perang pakai pistol-pistolan,
pakai pistol air, pakai senjata yang terbuat dari pelepah pisang, yang
terbuat dari bambu kecil, bambu besar yang kami sebut belecon atau juga
menggunakan pedang mainan yang terbuat dari pelepah pisang dan atau
senjata yang terbuat dari kayu. Atau dulu juga ada perang-perangan yang
disebut oliye. Cara bermainnya mudah, kami membagi menjadi dua kelompok,
kemudian kami bagi daerah kami bersembunyi, setelah ada aba-aba
meneriakkan “Oliyeeeeee!!!”, perang pun dimulai. Kita berburu musuh,
kalau musuh sudah terlihat, kita teriakkan namanya, “Iman!!”,
“Jajang!!”, atau siapapun musuh yang kita lihat, seru ya?!
Kalau ada yang bilang bahagia itu sederhana, saya membenarkannya. Dan
dari permainan tersebut juga mengajarkan banyak hal lho, diantaranya :
1. Kita belajar kreatif, membuat senjata sendiri sebelum berperang
(dari pelepah pisang, bambu, kayu dan bahan lainnya. Bahkan dulu saya
bisa juga membuat pistol-pistolan dari kertas, semacam origami).
2. Secara tidak disadari, kita belajar kerjasama tim demi mencapai
kemenangan bersama. Bahkan dalam perang-perangan ada yang selalu rela
jadi umpan untuk diikuti musuh dengan tujuan teman-temannya yang lain
dapat menembak musuh lebih banyak dari yang kita umpankan. Hehe, itu
bagian dari strategi kan..
3. Belajar mandiri, tidak manja. Hehe, yang manja silahkan pulang ke rumah, ke mamanya!:)
4. Belajar jujur. Maksudnya, ketika kita tidak jujur apabila kita
tertembak oleh musuh, maka permainan akan menjadi hal yang tidak
menyenangkan. Soalnya kita tidak tahu tandanya telah tertembak itu apa,
tak ada bekasnya. Kalau di masa sekarang, permainan itu berubah jadi
Paintball atau Air Soft Gun, yang sering bermain permaian ini akan
sangat mengerti sekali tentang kejujuran yang harus dijunjung tinggi,
mereka tahu bahwa ketidakjujuran dalam permaian adalah hal yang tidak
asik dan dapat merusak kesenangan kita bermaian. Coba hal itu kita
terapkan dalam kehidupan bermasyarakat kita, gimana??.. ciee, asikk!! :)
Masa ABG
Pada awal 90-an terjadi penebangan besar-besaran yang terjadi di
seberang jalan kampung kami, karena hendak dijadikan pasar (yang
sekarang bernama Pasar Cigombong, untuk memindahkan pasar Cigombong lama
dekat stasiun). Saya ikut jadi kuli angkut pohon-pohon yang habis
ditebang atau dulu kalau tidak salah disebut dengan kayu dolken.
Kelompok kami berkumpul dekat pohon-pohon yang sudah ditebang, lalu
menunggu truk besar datang. Setelah ada kesepakatan upah antara kuli
angkut dengan yang punya truk, kami angkat pohon-pohon tersebut ke dalam
truk, yang paling saya ingat adalah bahwa waktu itu tubuh saya kecil
dan tenaga saya kurang kuat, jadi teman-teman dengan rela (mudah-mudahan, hahay..) membiarkan saya hanya mengangkat pohon yang tidak terlalu besar,
atau kalau angkut yang besar, selalu dibantu, jadi tak pernah sendiri.
Saya lupa dapat uang berapa setiap hari waktu itu, tapi seingat saya
tidak terlalu besar, tapi lelahnya.. ampuuunn..
Hal itupun terjadi ketika kebun di sekitar kampung kami hendak
dijadikan arena untuk motocross, saya jadi kuli lagi. Anak kampung pun
dilibatkan juga dalam kejuaraan motocross tersebut, bukan ikut ambil
bagian sebagai peserta, cuma sebagai juru parkir, dan tukang
disuruh-suruh yang lain.
Oh iya, jadi kuli itu bukan karena suruhan orang tua atau kebutuhan
yang mendesak lho, itu karena senang aja, kita tidak menganggapnya
bekerja, hanya main saja, setidaknya saya menganggapnya begitu. Jadi
jangan berpikiran orangtua kami tega nyuruh anaknya jadi kuli ya, hehe..
Bagian itu tidaklah menarik menurut saya, karena yang paling menarik
untuk saya adalah setelah kejuaraan tersebut usai. Kami anak-anak
kampung sekitar jadi bisa mencoba trek motocross yang berliku,
naik-turun, licin dan tidak rata. Bukan menggunakan motor, kami pakai
sepeda. Bergaya di trek paling atas bak seorang rider, lalu menuruni
turunan curam, dilanjutkan dengan trek yang tidak rata, naik turun lalu
mencipratkan air kubangan di trek tersebut, melewati garis finish
imajiner, tak lupa sepeda saya rem dengan sedikit dibelokan ke kiri,
ciiiiit.. sepeda sedikit sliding, dan berbalik arah, tak lupa pandangan
sedikit menengadah ke atas laksana jagoan-jagoan dalam film.. keren
rasanya..
……………………………………………………………………………………………………………………………………………...
.............................................................................................................
.............................................................................................................
Waduh, lagi banyak kerjaan nih..
Waduh, lagi banyak kerjaan nih..
Bersambung ah.. :)
kentang ya?! bodo ah!!
kentang ya?! bodo ah!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar