Minggu, 10 Agustus 2014

Gombong Onan, I Love You.. (part. 1)

Arka, anak saya lagi main di rel kereta yang melintasi kampung saya.

Mukadimah (ciee.. mukadimah..)

Senang rasanya saya bisa mengeluarkan apa yang ada di kepala saya (lagi), setelah sebelumnya (4 tahun yang lalu) saya buat duniaawankawank.blogspot.com yang kini saya lupa passwordnya, jadilah saya buat blog baru ini.

Sesungguhnya saya sedikit malas untuk nge-blog lagi setelah kejadian lupa password itu, namun hal itu langsung hilang setelah lebaran 2014 kemarin, saya pulang kampung, dan rasanya harus aja saya menuliskan tentang kampung saya ini, kampung tempat saya bermain. Ada kecintaan terhadap kampung ini.

Nama kampung saya itu adalah Gombong Onan, entah kenapa kampung itu dinamai seperti itu. Ada kabar angin yang mengatakan bahwa nama Gombong itu adalah nama bambu, sedangkan Onan itu adalah nama warga yang pertama tinggal di situ, Ki Onan. Entahlah, saya tak begitu tahu, dan banyak orang yang tidak tahu pula akan hal itu.

Gombong Onan terletak tepat dibelakang tugu perbatasan antara Bogor – Sukabumi, nama jalan yang melintasi kampung kami pun namanya Jalan Bogor – Sukabumi.
Sebelum bercerita banyak, saya mau ngaku kalau ingatan saya tentang tanggal atau tahun sangatlah payah, jadi saya tidak pernah tahu pasti tepatnya kapan. Kalau ada teman yang baca dan ingat, kasih tahu saya ya! :) 

Masa kecil

Nama saya Awang Kuswara, kelahiran tahun 1982. Sebenarnya saya tidak lahir di Gombong Onan, saya tinggal di kampung itu sesaat sebelum saya masuk SD kelas 1. Sebelumnya orang tua saya sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu kontrakan ke kontrakan lain.

Di Gombong Onan, keluarga kami tinggal bersama orang tua dari Bapakku. Waktu itu belum masuk listrik, kami masih pakai lampu tempel, kadang juga petromak. Yang paling aku ingat di kegiatan setiap malam keluarga kami adalah keluarga kami senang sekali main kartu remi. Ketika bapak dan paman-paman saya bermain, saya belajar sama ibu atau bibi saya. Yang selalu saya ingat, saya sangat suka menggambar, lebih tepatnya corat-coret, dan itu ditemani bibi saya dan temaramnya lampu tempel.

Entah berapa lama dari itu, Bapak saya bisa membangun rumah tepat di sebelah rumah kakek.

Bapak saya pernah membeli lego dan kereta api mainan lengkap dengan lintasannya, hobi saya membawa mainan itu keluar, bermain bareng dengan teman-teman seumuran, senaaaang rasanya.

Di awal-awal kemunculan televisi, keluarga saya juga salah satu yang rada awal punya di Gombong Onan, seingat saya. Jadi, kalau ada film Satria Baja Hitam dan film anak lainnya, teman-teman sering berkumpul dan nonton film tersebut ramai-ramai. Hehe, kalau inget itu saya suka malu sendiri, namaya anak-anak kan kalau nonton ribut, nah, saya gak suka kalau nonton ribut. Karena saya merasa yang punya televisi, kadang yang berisik suka saya bentak, atau lebih tengil lagi saya matikan televisinya.

Ola adalah nama salah satu teman saya, dia berumur lebih tua sedikit dari saya. Dia salah satu yang suka ikut juga nonton televisi di rumah saya, kadang kalau saya teriak “berisiiiiik”, saya suka tepat melihat wajah dia, walaupun saya tahu dia diam dan asik melihat film, yang lain yang biasanya berisik. Hehe, seriusan, setiap inget itu, pasti saya ingat pandangan Ola ke saya, saya sih bisa baca maksud dari pandangan itu “Ih, nyebelin banget sih nih anak!!” mungkin gitu gerutu Ola dalam hatinya, hehe.. Duuuuh, malu saya, maaf ya teman-teman, anak kecil emang gitu, hehehe..

Suatu hari, waktu itu hujan sedikit gerimis, dari balik jendela saya melihat ke pelataran sekitar rumah yang agak luas, sehingga dimanfaatkan anak-anak kampung seumuran saya bermain bola. Asik sekali mereka mengejar dan menendang bola. Dua orang dari mereka tidak memakai baju, hanya singlet putih yang telah menjadi krem. Dalam hati, ah gampang, saya juga bisa bermain bola, padahal seingat saya, saya belum pernah bermain bola sebelumnya.

Yang paling kuingat dari anak-anak itu adalah yang sekarang menjadi sahabatku, Supendi namanya, dulu kita memanggilnya Empen. Dia mungkin tidak pernah tahu bahwa dialah salah satu orang yang membuat saya mencintai sepakbola, lebih tepatnya mencandu bermain sepakbola.

Entah kapan mulainya, saya jadi sering bermain sepakbola, di kampung maupun di sekolah.
Di sekolah, saya punya beberapa teman-teman hebat dalam sepakbola. Dedi, yang paling besar badannya. Asep Ridwan, si kecil lincah. Asep Budi Firmansah atau Asep BF, dia jago juga. Nanang atau Kerud, bek yang susah dilewati, laksana monster landak karena rambutnya yang spikey, dulu kita menyebutnya jocong. Dan teman-teman lainnya. Kami tergabung dalam tim PSCD (Persatuan Sepakbola Cigombong Dua), kalo gak salah, Dedi yang punya ide buat nama itu, gak terkenal, kami aja yang tahu nama itu.

Kampung kami dikelilingi pohon karet, jadi kalau mau ke jalan raya atau ke sekolah, kita harus melawati kebun karet, adem ditambah semilir angin yang disapukan daun-daun. Namun kadang sedikit mengerikan, karena di kebun karet sekitaran kampung kami sering dijadikan pembuangan bagi petrus, itu lho orang-orang yang dianggap kriminal pada pemerintahan Presiden Soeharto itu. Saya tak pernah melihat langsung korban-korban itu, hanya desas-desus saja. Tapi sekitar dua kali saya mendengarkan perbincangan orang-orang dewasa bahwa pagi itu ada mayat, dan sudah dibereskan (maksudnya sudah tidak ada bekasnya lagi). Entah siapa yang membereskan.

Di kebun karet itu pulalah kami sering main bola, semakin besar, lapangannya pun bukan di pelataran rumah lagi. Di kampung, saya punya tandem hebat dalam bermain bola. Posisi saya penyerang, dan teman yang paling saya ingat sebagai teman menyerang saya adalah Heri dan Jajang. Pada permainan bola terakhir, saya dan Heri begitu kompak, kami banyak menciptakan gol. Ya, itu permainan bola kami yang terakhir, karena beberapa hari kemudian Heri meninggal tertabrak mobil ketika hendak menyebrang. Selamat jalan, sahabat, kamu pasti tenang disisi Allah, Her..

Cerita lain dari kebun karet adalah bekas luka di pipi saya pun ada karena main bola, terlalu semangat mengejar bola, tak sadar pohon karet di depan mata, debb!!! Pipi saya mencium pohon karet, luka baret..

Kesukaan saya bermain bola juga menjadikan saya sebagai pemain terbaik pada saat turnamen bola memperingati Hari Kemerdekaan. Skill, kelincahan dan daya jelajah saya menjadi pertimbangan saya jadi pemain terbaik, begitu kata panitia turnamen tersebut. Sampai sekarang saya masih simpan piagam penghargaan jadi pemain tebaik se-RW tersebut karena itu menjadi salah satu kebanggan saya yang kelak akan saya tunjukan ke anak saya, lengkap dengan tanda tangan dari ketua panitia, paman saya.  (Pleaseeeee, jangan berfikir itu nepotisme ya! Hahay..)

Dunia anak itu memang seharusnya bermain dan bermain, karena dengan begitu ia akan belajar dengan cara yang tidak membosankan, dengan cara yang disukainya.

Main perang-perangan adalah hobi saya, perang pakai pistol-pistolan, pakai pistol air, pakai senjata yang terbuat dari pelepah pisang, yang terbuat dari bambu kecil, bambu besar yang kami sebut belecon atau juga menggunakan pedang mainan yang terbuat dari pelepah pisang dan atau senjata yang terbuat dari kayu. Atau dulu juga ada perang-perangan yang disebut oliye. Cara bermainnya mudah, kami membagi menjadi dua kelompok, kemudian kami bagi daerah kami bersembunyi, setelah ada aba-aba meneriakkan “Oliyeeeeee!!!”, perang pun dimulai. Kita berburu musuh, kalau musuh sudah terlihat, kita teriakkan namanya, “Iman!!”, “Jajang!!”, atau siapapun musuh yang kita lihat, seru ya?!

Kalau ada yang bilang bahagia itu sederhana, saya membenarkannya. Dan dari permainan tersebut juga mengajarkan banyak hal lho, diantaranya :

1. Kita belajar kreatif, membuat senjata sendiri sebelum berperang (dari pelepah pisang, bambu, kayu dan bahan lainnya. Bahkan dulu saya bisa juga membuat pistol-pistolan dari kertas, semacam origami).

2. Secara tidak disadari, kita belajar kerjasama tim demi mencapai kemenangan bersama. Bahkan dalam perang-perangan ada yang selalu rela jadi umpan untuk diikuti musuh dengan tujuan teman-temannya yang lain dapat menembak musuh lebih banyak dari yang kita umpankan. Hehe, itu bagian dari strategi kan..

3. Belajar mandiri, tidak manja. Hehe, yang manja silahkan pulang ke rumah, ke mamanya!:)

4. Belajar jujur. Maksudnya, ketika kita tidak jujur apabila kita tertembak oleh musuh, maka permainan akan menjadi hal yang tidak menyenangkan. Soalnya kita tidak tahu tandanya telah tertembak itu apa, tak ada bekasnya. Kalau di masa sekarang, permainan itu berubah jadi Paintball atau Air Soft Gun, yang sering bermain permaian ini akan sangat mengerti sekali tentang kejujuran yang harus dijunjung tinggi, mereka tahu bahwa ketidakjujuran dalam permaian adalah hal yang tidak asik dan dapat merusak kesenangan kita bermaian. Coba hal itu kita terapkan dalam kehidupan bermasyarakat kita, gimana??.. ciee, asikk!! :)

Masa ABG

Pada awal 90-an terjadi penebangan besar-besaran yang terjadi di seberang jalan kampung kami, karena hendak dijadikan pasar (yang sekarang bernama Pasar Cigombong, untuk memindahkan pasar Cigombong lama dekat stasiun). Saya ikut jadi kuli angkut pohon-pohon yang habis ditebang atau dulu kalau tidak salah disebut dengan kayu dolken.

Kelompok kami berkumpul dekat pohon-pohon yang sudah ditebang, lalu menunggu truk besar datang. Setelah ada kesepakatan upah antara kuli angkut dengan yang punya truk, kami angkat pohon-pohon tersebut ke dalam truk, yang paling saya ingat adalah bahwa waktu itu tubuh saya kecil dan tenaga saya kurang kuat, jadi teman-teman dengan rela (mudah-mudahan, hahay..) membiarkan saya hanya mengangkat pohon yang tidak terlalu besar, atau kalau angkut yang besar, selalu dibantu, jadi tak pernah sendiri. Saya lupa dapat uang berapa setiap hari waktu itu, tapi seingat saya tidak terlalu besar, tapi lelahnya.. ampuuunn..

Hal itupun terjadi ketika kebun di sekitar kampung kami hendak dijadikan arena untuk motocross, saya jadi kuli lagi. Anak kampung pun dilibatkan juga dalam kejuaraan motocross tersebut, bukan ikut ambil bagian sebagai peserta, cuma sebagai juru parkir, dan tukang disuruh-suruh yang lain.

Oh iya, jadi kuli itu bukan karena suruhan orang tua atau kebutuhan yang mendesak lho, itu karena senang aja, kita tidak menganggapnya bekerja, hanya main saja, setidaknya saya menganggapnya begitu. Jadi jangan berpikiran orangtua kami tega nyuruh anaknya jadi kuli ya, hehe..

Bagian itu tidaklah menarik menurut saya, karena yang paling menarik untuk saya adalah setelah kejuaraan tersebut usai. Kami anak-anak kampung sekitar jadi bisa mencoba trek motocross yang berliku, naik-turun, licin dan tidak rata. Bukan menggunakan motor, kami pakai sepeda. Bergaya di trek paling atas bak seorang rider, lalu menuruni turunan curam, dilanjutkan dengan trek yang tidak rata, naik turun lalu mencipratkan air kubangan di trek tersebut, melewati garis finish imajiner, tak lupa sepeda saya rem dengan sedikit dibelokan ke kiri, ciiiiit.. sepeda sedikit sliding, dan berbalik arah, tak lupa pandangan sedikit menengadah ke atas laksana jagoan-jagoan dalam film.. keren rasanya..


……………………………………………………………………………………………………………………………………………...
.............................................................................................................
.............................................................................................................


 

Waduh, lagi banyak kerjaan nih..
Bersambung ah.. :)
kentang ya?! bodo ah!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar