Selasa, 09 Desember 2014

Hujan (Gombong Onan, I love You part. 2)


Hujan adalah mesin waktu termurah. Membawa kita pada semua kenangan. Semua rasa di hati pernah diiringi oleh gemericik hujan.

Kesedihan menjadi semakin sendu, galau segalau-galaunya, menyayat sampai ke palung hati. Pun demikian dengan kesenangan, hujan adalah musik pengiring yang ceria baginya, mengiringi dan memberikan dorongan positif pada setiap inchi dari tubuh kita, menjalar ke otak.

Kekuatan hujan yang luar biasa sore ini bisa menggerakkan sedikit bibir saya, senyum tersungging disini. Pikiran melayang ke kira-kira lima belas tahun lalu hidup saya.

Saya yang bertubuh sedang, mengenakan kaos dan celana sepakbola. Sepatu bola Super Cup yang dibelikan Bapak telah sedikit robek, tepat di bagian jempol kanan telah dijahit oleh Mang Aad, yang kini telah almarhum.

Saya dan teman-teman yang lain telah siap di lapangan, ada yang sedang men-juggling bola, melatih tendangan jarak jauhnya, ada pula kumpulan yang melatih sundulannya dengan menerima bola dari tendangan sudut. Ya memang kami harus menggerakkan tubuh kami, hujan rintik-rintik ini akan membeku-kan kami kalau kami hanya diam.

Priiiiitttt!!!! Suara pluit dari Mang Ujang atau yang biasa disapa Mang Kinoy telah berbunyi, tandanya kami harus segera baris dan melakukan pemanasan. Tubuh mungil Mang Kinoy memang tidak sesuai dengan sikapnya yang tegas, galak dan temperamental. Mang Kinoy adalah pamanku, ia sangat kami segani, ia adalah arsitek di tim kami. Taktiknya mengatur kami luar biasa, setidaknya menurutku. Terbukti dengan diseganinya tim kami, Garuda Mas, waktu itu. Walaupun saya keponakannya, tak ada perlakuan istimewa terhadap saya, semua diperlakukan sama oleh Mang Kinoy. Sering saya mendapat hukuman tambahan push up karena ngeyel kalau latihan, ketika orang lain push up 30 kali, saya hanya 20, saya kira Mang Kinoy tidak memperhatikan karena badannya sedang tidak menghadap kearahku, namun jangan salah, matanya setajam elang, jadi tahu apa yang aku lakukan. Apa mungkin dikepala belakangnya ada matanya? Entahlah, yang pasti push up-ku bertambah jadi 50 kali.

Hujan deras mengiringi kami yang kini membagi menjadi dua tim untuk mengaplikasikan latihan kedalam permainan.

Lama bermain bukannya membuat saya tambah lelah, energi saya bertambah besar, lari saya semakin kencang. Sesekali sambil meminum air hujan yang menetes ke kepala dan jatuh disudut bibir.

Kesenangan bermain bola memang tiada bandingannya, bahkan saya lebih memilih latihan bola daripada harus jalan sama pacar, ketika saya SMA. Energi yang menjalar ke tubuh saya ketika main bola adalah energi positif yang hampir sama dengan apabila saya menyatakan cinta ke seseorang, dan pernyataan cinta saya diterima. Begitulah kira-kira.

Hujan dan sepakbola adalah perpaduan yang sempurna buat saya, asal hujannya tanpa petir aja. Hujan itu menyenangkan buat kita sliding dan merebut bola teman yang sedang menggiring bola. Atau melakukan selebrasi usai mencetak gol dengan gaya meluncur bak superman, hehe.. Dada yang tergores kerikil kecil tak terasa, kesenangan telah mengaburkan goresan-goresan kecil itu di dada saya.

Ada Jajang, Supendi, Domo, dan Mang Hendra kiper kebanggaan kampung kami. Mang Hendra adalah pamanku juga, ia adik Mang Kinoy. Pada latihan kali ini ia berada di tim lain dan menjadi lawanku, bisa membobol gawangnya adalah kesenangan tersendiri buatku, badannya tinggi besar, maka tertutuplah semua ruangku untuk menjaringkan bola ke gawangnya.

Aku yang penyerang, Domo yang pemain tengah, Supendi yang gelandang kanan dan Jajang yang menjadi bek. Banyak pemain hebat lainnya di kampungku, ada Mang Ano dengan gocekan ala Maradona, ada Anang yang ditasbihkan sebagai titisan Anang Ma’ruf sang pemain nasional, ada Encek penyerang tak kenal lelah yang sedikit temperamental, Koya dan Ola yang mempunyai tendangan dahsyat yang tak jarang merobek gawang gawang lawan dengan keras. Kami semua bahu membahu membobol gawang Mang Hendra.

Ah, indahnya kenangan itu. Kadang kami protes apabila Mang Kinoy meniup peluit mengakhiri permainan. “Udah, jangan terlalu lama, kalian sudah lelah” katanya. “Lelah apa? Pulangnya habis magrib saja!!” Protesku dan kawan-kawan yang lain, tapi tetap saja tak punya kuasa untuk melawan perintahnya. Kami pun segera ke pinggir lapangan dan pulang.

Mengenang masa lalu ketika hujan itu menyenangkan. Sekarang umur saya sudah 32 tahun, namun keinginan untuk hujan-hujanan itu tak pernah hilang. Arka, anak saya yang masih berumur 2,9 tahun sering saya biarkan main hujan diluar ketika hujan datang, saya sih tak tahu pasti apa manfaat hujan untuk anak-anak, tapi saya selalu meyakini bahwa hujan-hujanan itu baik, asal airnya yang langsung dari langit, jangan air yang dari pancuran atau atap saja, mungkin.. Walaupun ibunya seringkali khawatir.

…………………………………………………………………………………………………………….

Ah, sudah lama saya menunggu hujan dan bernostalgia dengannya, saya harus pulang, istri dan anak saya sudah menunggu.

Kini, saya sering sekali menerobos hujan dengan motor saya sepulang kerja bukan karena terburu-buru harus pulang, tapi di umur saya yang sekarang ini saya masih selalu ingin hujan-hujanan. Makanya, biar gak seperti anak-anak, ya, saya hujan-hujanannya di motor, jadi ada excuse, hahay..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar