Hujan
adalah mesin waktu termurah. Membawa kita pada semua kenangan. Semua rasa di
hati pernah diiringi oleh gemericik hujan.
Kesedihan
menjadi semakin sendu, galau segalau-galaunya, menyayat sampai ke palung hati.
Pun demikian dengan kesenangan, hujan adalah musik pengiring yang ceria
baginya, mengiringi dan memberikan dorongan positif pada setiap inchi dari
tubuh kita, menjalar ke otak.
Kekuatan hujan
yang luar biasa sore ini bisa menggerakkan sedikit bibir saya, senyum
tersungging disini. Pikiran melayang ke kira-kira lima belas tahun lalu hidup
saya.
Saya yang
bertubuh sedang, mengenakan kaos dan celana sepakbola. Sepatu bola Super Cup yang dibelikan Bapak telah
sedikit robek, tepat di bagian jempol kanan telah dijahit oleh Mang Aad, yang kini
telah almarhum.
Saya dan
teman-teman yang lain telah siap di lapangan, ada yang sedang men-juggling
bola, melatih tendangan jarak jauhnya, ada pula kumpulan yang melatih
sundulannya dengan menerima bola dari tendangan sudut. Ya memang kami harus
menggerakkan tubuh kami, hujan rintik-rintik ini akan membeku-kan kami kalau
kami hanya diam.
Priiiiitttt!!!! Suara pluit dari Mang Ujang atau yang biasa
disapa Mang Kinoy telah berbunyi, tandanya kami harus segera baris dan
melakukan pemanasan. Tubuh mungil Mang Kinoy memang tidak sesuai dengan
sikapnya yang tegas, galak dan temperamental. Mang Kinoy adalah pamanku, ia sangat kami segani, ia adalah arsitek
di tim kami. Taktiknya mengatur kami luar biasa, setidaknya menurutku. Terbukti
dengan diseganinya tim kami, Garuda Mas, waktu itu. Walaupun saya keponakannya,
tak ada perlakuan istimewa terhadap saya, semua diperlakukan sama oleh Mang
Kinoy. Sering saya mendapat hukuman tambahan push up karena ngeyel kalau latihan, ketika orang lain
push up 30 kali, saya hanya 20, saya kira Mang Kinoy tidak memperhatikan karena
badannya sedang tidak menghadap kearahku, namun jangan salah, matanya setajam
elang, jadi tahu apa yang aku lakukan. Apa mungkin dikepala belakangnya ada matanya? Entahlah, yang
pasti push up-ku bertambah jadi 50 kali.
Hujan deras
mengiringi kami yang kini membagi menjadi dua tim untuk mengaplikasikan latihan
kedalam permainan.
Lama
bermain bukannya membuat saya tambah lelah, energi saya bertambah besar, lari
saya semakin kencang. Sesekali sambil meminum air hujan yang menetes ke kepala
dan jatuh disudut bibir.
Kesenangan
bermain bola memang tiada bandingannya, bahkan saya lebih memilih latihan bola
daripada harus jalan sama pacar, ketika saya SMA. Energi yang menjalar ke tubuh
saya ketika main bola adalah energi positif yang hampir sama dengan apabila
saya menyatakan cinta ke seseorang, dan pernyataan cinta saya diterima.
Begitulah kira-kira.
Hujan dan
sepakbola adalah perpaduan yang sempurna buat saya, asal hujannya tanpa petir
aja.
Hujan itu menyenangkan buat kita sliding dan merebut bola teman yang sedang
menggiring bola. Atau melakukan selebrasi usai mencetak gol dengan gaya
meluncur bak superman, hehe.. Dada yang tergores kerikil kecil tak terasa, kesenangan telah
mengaburkan goresan-goresan kecil itu di dada saya.
Ada Jajang, Supendi, Domo, dan Mang Hendra kiper kebanggaan
kampung kami. Mang Hendra adalah pamanku juga, ia adik Mang Kinoy. Pada latihan
kali ini ia berada di tim lain dan menjadi lawanku, bisa membobol gawangnya
adalah kesenangan tersendiri buatku, badannya tinggi besar, maka tertutuplah
semua ruangku untuk menjaringkan
bola ke gawangnya.
Aku yang penyerang, Domo yang pemain tengah, Supendi yang
gelandang kanan dan Jajang yang menjadi bek. Banyak pemain hebat lainnya di
kampungku, ada Mang Ano dengan gocekan ala Maradona, ada Anang yang ditasbihkan
sebagai titisan Anang Ma’ruf sang pemain nasional, ada Encek penyerang tak kenal
lelah yang sedikit temperamental,
Koya dan Ola yang mempunyai tendangan dahsyat yang tak jarang merobek gawang
gawang lawan dengan keras. Kami semua bahu membahu membobol gawang Mang Hendra.
Ah, indahnya kenangan itu. Kadang kami protes apabila Mang
Kinoy meniup peluit mengakhiri permainan. “Udah, jangan terlalu lama, kalian
sudah lelah” katanya. “Lelah apa? Pulangnya habis magrib saja!!” Protesku dan
kawan-kawan yang lain, tapi tetap saja tak punya kuasa untuk melawan
perintahnya. Kami pun segera ke pinggir lapangan dan pulang.
Mengenang
masa lalu ketika hujan itu menyenangkan. Sekarang umur saya sudah 32 tahun,
namun keinginan untuk hujan-hujanan itu tak pernah hilang. Arka, anak saya yang
masih berumur 2,9 tahun sering saya biarkan main hujan diluar ketika hujan
datang, saya sih tak tahu pasti apa manfaat hujan untuk anak-anak, tapi saya
selalu meyakini bahwa hujan-hujanan itu baik, asal airnya yang langsung dari
langit, jangan air yang dari pancuran atau atap saja, mungkin.. Walaupun ibunya
seringkali khawatir.
…………………………………………………………………………………………………………….
Ah, sudah
lama saya menunggu hujan dan bernostalgia dengannya, saya harus pulang, istri
dan anak saya sudah menunggu.
Kini,
saya sering sekali menerobos hujan dengan motor saya sepulang kerja bukan
karena terburu-buru harus pulang, tapi di umur saya yang sekarang ini saya
masih selalu ingin hujan-hujanan. Makanya, biar gak seperti anak-anak, ya, saya
hujan-hujanannya di motor, jadi ada excuse, hahay..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar