Rabu, 07 Maret 2018

Senyum

Siang itu sengaja aku minta ke istri untuk jemput Arka, anakku yang bersekolah di TK. Kegiatan mengantar atau menjemput anak sekolah lumayan langka buatku karena aku harus kerja, jadi tugas ini biasa dilakukan istriku saja.
Namun kali ini lain, mumpung libur kerja, makanya aku mau jemput Arka, lagian kegiatan ini juga aku suka, entah kenapa mengantar atau menjemput anak sekolah itu menyenangkan buatku.

Jam sepuluh kurang lima belas aku bawa motorku menuju sekolah Arka. Keluar kelasnya sih jam sepuluh, tapi aku gak mau Arka nunggu gara-gara yang jemputnya lama, aku lebih senang ketika dia keluar dari kelasnya, di luar sudah ada yang nunggu untuk menjemputnya. Itu yang selalu aku bilang ke istri, itu juga yang aku lakukan sekarang.

Sampai di sekolah, aku lihat Arka belum keluar kelasnya, aku intip dia melaui kaca, ternyata gurunya sedang melakukan tanya jawab sama muridnya, siapa yang bisa jawab boleh pulang duluan.

Aku perhatikan Arka serius mendengar pertanyaan gurunya, dia berusaha berfikir dan menjawab namun selalu keduluan temannya. Dua anak telah berhasil menjawab pertanyaan penjumlahan dari gurunya dan pulang duluan.

"Empat tambah dua!?" tanya gurunya. Semua berfikir menjawab, begitu juga Arka, dia mulai menghitung menggunakan jarinya. "Enam!" teriak Arka, "BETUUUL, Arka boleh pulang" seru gurunya.

Dari balik kaca jendela, senyum tersungging di mulutku. Aku bangga dengan anakku.
Setelah salim dengan gurunya, Arka keluar kelas. Matanya langsung melihatku, sambil senyum dia memanggilku "Ayaaah"

Di perjalanan, samar-samar aku teringat dengan senyum tersungging seperti yang baru saja aku lakukan untuk Arka karena bisa menjawab pertanyaan dari gurunya. Senyum itu khusus buatku dari seseorang pada masa lalu, ketika aku masih kecil.
Terus kufikirkan. Tak sampai lima menit aku langsung ingat.
Iya, senyum itu pernah aku lihat tersungging dari bibir bapakku, dulu. Namun aku lupa kapan, dimana, dan dalam rangka apa bapakku memberikan senyuman itu untukku.
Ah, jadi kangen bapak.

Masih di motor, Arka duduk di depan, kuciumi kepalanya, dalam hati kuberdoa "Ya Allah, jadikanlah anakku ini jadi anak yang pintar, sholeh dan selalu bikin bangga"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar