Siang itu sengaja aku minta ke istri untuk jemput Arka,
anakku yang bersekolah di TK. Kegiatan mengantar atau menjemput anak sekolah
lumayan langka buatku karena aku harus kerja, jadi tugas ini biasa dilakukan
istriku saja.
Namun kali ini lain, mumpung libur kerja, makanya aku mau
jemput Arka, lagian kegiatan ini juga aku suka, entah kenapa mengantar atau
menjemput anak sekolah itu menyenangkan buatku.
Jam sepuluh kurang lima belas aku bawa motorku menuju
sekolah Arka. Keluar kelasnya sih jam sepuluh, tapi aku gak mau Arka nunggu
gara-gara yang jemputnya lama, aku lebih senang ketika dia keluar dari
kelasnya, di luar sudah ada yang nunggu untuk menjemputnya. Itu yang selalu aku
bilang ke istri, itu juga yang aku lakukan sekarang.
Sampai di sekolah, aku lihat Arka belum keluar kelasnya, aku
intip dia melaui kaca, ternyata gurunya sedang melakukan tanya jawab sama
muridnya, siapa yang bisa jawab boleh pulang duluan.
Aku perhatikan Arka serius mendengar pertanyaan gurunya, dia
berusaha berfikir dan menjawab namun selalu keduluan temannya. Dua anak telah
berhasil menjawab pertanyaan penjumlahan dari gurunya dan pulang duluan.
"Empat tambah dua!?" tanya gurunya. Semua berfikir
menjawab, begitu juga Arka, dia mulai menghitung menggunakan jarinya.
"Enam!" teriak Arka, "BETUUUL, Arka boleh pulang" seru
gurunya.
Dari balik kaca jendela, senyum tersungging di mulutku. Aku
bangga dengan anakku.
Setelah salim dengan gurunya, Arka keluar kelas. Matanya
langsung melihatku, sambil senyum dia memanggilku "Ayaaah"
Di perjalanan, samar-samar aku teringat dengan senyum
tersungging seperti yang baru saja aku lakukan untuk Arka karena bisa menjawab
pertanyaan dari gurunya. Senyum itu khusus buatku dari seseorang pada masa
lalu, ketika aku masih kecil.
Terus kufikirkan. Tak sampai lima menit aku langsung ingat.
Iya, senyum itu pernah aku lihat tersungging dari bibir
bapakku, dulu. Namun aku lupa kapan, dimana, dan dalam rangka apa bapakku
memberikan senyuman itu untukku.
Ah, jadi kangen bapak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar